Bagaiamana cara memparafrasekan puisi menjadi
prosa? Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memfaraprasekan puisi menjadi
prosa, ialah :
·
Membaca atau mendengarkan pembacaan puisi
dengan seksama ;
·
Pahami isi kandungan puisi secara utuh ;
·
Jelaskan kata-kata kias atau ungkapan yang
terdapat dalam puisi ;
·
Uraikan kembali isi puisi secara tertulis
dalam bentuk prosa dengan menggunakan kalimat sendiri ;
·
Sampaikan secara lisan atau dibacakan.
Parafrasa merupakan cara pengungkapan kembali suatu tuturan dari
suatu tingkatan/ macam bahasa menjadi yang lain tanpa mengubah pengertiannya.
Ciri Parafrasa:
1. bentuk tuturan berbeda
2. makna tuturan sama
3. subtansi tidak berubah
4. bahasa/cara penyampaian berbeda
Berdasarkan jeisnya, parafrasa dibagi menjadi
dua; parafrasa lisan dan parafrasa tulisan.
Langkah membuat parafrasa:
1. membaca teks keseluruhan
2. menentukan pokok-pokok pikiran wacana
3. menetuka tuturan yang hendak menjadi
variasinya
4. menyusun pokok pikiran tanpa mengabah arti
5. menyempurnakan pokok pikiran
6. membentuk wacana sesuai keinginan
Contoh 1
Selamat
Tinggal
aku
berkaca
ini
muka penuh luka
siapa
punya?
kudengar
seru menderu
dalam
hatiku
apa
hanya angin lalu?
lagu
lain pula
mmenggelepar
di tengah malam buta
ah...!!!
segala
menebal, segala mengental
segala
tak kukenal
(Chairil
Anwar)
parafrasanya
menjadi:
Ketika si ku berkaca, aku sangat terkejut melihat mukaku ini
mulai dipenuhi luka. Sebenanya ini punya siapa?
Aku mendengar suara yang seru menderu, dalam
hati kubertanya, apakah itu hanya suara angin lalu?
Aku pun mendengar lagu yang lain menggema
menggelepar di tengan malam buta.
Ah,...!!
Segalnaya telah tiba menebal, bahkan segalanya
jadi mengental, sehingga segalanya tidak aku kenal.
Contoh 2
Aku
Kalau
sampai waktuku
'Ku mau
tak seorang 'kan merayu
Tidak
juga kau
Tak
perlu sedu sedan itu
Aku ini
binatang jalang
Dari
kumpulannya terbuang
Bila
peluru menembus kulitku
Aku
tetap meradang menerjang
Lukadan
bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga
hilang perih peri
Dan aku
akan lebih tidak peduli
Aku mau
hidup seribu tahun lagi
(Chairil
Anwar, DCD 1959:7)
Parafrasanya :
Kalau si aku meninggal, ia menginginkan jangan ada seorangpun
yang bersedih, bahkan juga kekasih atau istrinya.
Tidak perlu juga ada sedu sedan yang meratapi kematian si aku
sebab tidak ada gunanya. Si aku ini adalah binatang jalang yang lepas bebas,
yang terbuang dari kelompoknya. Ia merdeka tidak terikat oleh aturan-aturan
yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak, peluru menembus kulitnya. Si aku
tetap berang dan memberontak terhadap aturan-aturan yang mengikat tersebut.
Segala rasa sakit dan penderitaan akan ditanggung, ditahan,
diatasi hingga rasa sakit dan penderitaan itu pada akhirnya akan hilang
sendiri.
Si aku akan makin tidak peduli pada segala aturan dan ikatan,
halangan, serta penderitaan. Si aku mau hidup seribu tahun lagi. Maksudnya, si
aku menginginkan semangatnya, pikirannya, karya-karyanya akan hidup
selama-lamanya. (Rachmat Djoko Pradopo)
Jenis parafrasa ada 2 yaitu:
1. Parafrasa terikat adalah mengubah puisi
menjadi prosa dengan cara menambahkan atau menyisipkan sejumlah kata pada puisi
sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami seluruh kata dalam puisi masih
tetap digunakan dalam parafrasa tersebut.
2. Parafrasa bebas adalah mengubah puisi
menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi
dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan.
Pepatah' merupakan
jenis peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran dari orang tua-tua. Pengertian
pepatah adalah pribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran dari orang-orang
tua (biasanya dipakai atau diucapkan untuk mematahkan lawan bicara). Contoh:
1. Air tenang menghayutkan.(orang pendiam, tetapi berilmu banyak)
2. Berjalan pelihara kaki, berkata pelihara lidah. ( dalam melakukan
suatu pekerjaan hendaknya selalu berhati-hati)
Peribahasa dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu peribahasa yang memiliki arti lugas dan
peribahasa yang memiliki arti simbolis. Peribahasa yang memiliki arti lugas
terdiri dari dua jenis, yaitu bidal dan pepatah, sedangkan peribahasa yang
memiliki arti simbolis, yaitu perumpamaan.
Peribahasa yang memiliki arti lugasSunting
§ Bidal
Peribahasa jenis bidal
memiliki rima dan irama, seringkali digolongkan kedalam bentuk puisi.
Contoh:
bagai kerakap di atas
batu
hidup segan mati tak
mau
§ Pepatah
Peribahasa jenis
pepatah memiliki isi yang ringkas, bijak dan seolah-olah diucapkan untuk
mematahkan/mematikan ucapan orang lain.
Contoh:
biar lambat asal
selamat.
sedikit-demi sedikit,
lama-lama menjadi bukit.
Peribahasa yang memiliki arti simbolisSunting
§ Perumpamaan
Peribahasa dalam
bentuk perumpamaan, ungkapannya mengandung arti simbolik, biasanya dimulai
dengan kata seperti, bagaiatau bak.
Contoh:
bagai pinang dibelah dua.
datar bak lantai papan, licin bak dinding cermin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar